Filsafat: “Kerumitan” bagi yang Berpikir Instan
Ubaidillah
Dalam sejarah panjang peradaban, filsafat hadir sebagai upaya manusia untuk memahami hakikat hidup, kebenaran, dan realitas. Ia lahir dari “kerumitan” pertanyaan yang tidak selesai hanya dengan jawaban singkat, melainkan menuntut keberanian berpikir mendalam dan kritis. Namun, di era modern yang serba cepat, banyak orang cenderung meninggalkan kerumitanitu, tergoda oleh kehidupan instan yang menjanjikan kepuasan segera.
Fenomena ini tampak jelas dalam cara manusia mengonsumsi informasi. Media sosial, algoritma, dan budaya scrollingmembentuk pola pikir instan: satu pertanyaan dijawab dengan potongan video singkat, satu kegelisahan dihibur dengan hiburan sekejap, dan satu persoalan hidup diabaikan karena terasa merepotkan. Padahal, masalah mendasar dalam kehidupan manusia tidak pernah sesederhana itu. Pertanyaan tentang makna, nilai, dan tujuan tidak bisa dituntaskan dengan resep instan.
Di sinilah filsafat menegaskan urgensinya. Socrates pernah mengatakan, The unexamined life is not worth living—hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani. Artinya, berpikir kritis bukan sekadar kemampuan intelektual, melainkan kebutuhan eksistensial. Manusia yang enggan berpikir mendalam akan mudah terseret arus opini, termakan hoaks, atau kehilangan arah dalam hidupnya.
Nietzsche mengingatkan, He who has a why to live can bear almost any how. Orang yang memiliki alasan atau makna hidup akan mampu menghadapi kesulitan apa pun. Kutipan ini menunjukkan bahwa kerumitan berpikir—untuk mencari whydalam hidup—justru membekali manusia dengan keteguhan.
Kerumitandalam filsafat bukanlah beban, melainkan latihan jiwa. Ia menempah manusia agar tidak cepat puas dengan jawaban sederhana, tetapi terus menggali, mempertanyakan, dan menguji. Descartes menekankan pentingnya keraguan sebagai jalan menuju kepastian: Dubito, ergo cogito, cogito ergo sum—aku ragu, maka aku berpikir; aku berpikir, maka aku ada. Keraguan, yang sering dianggap merepotkan, dalam filsafat justru menjadi pintu menuju pengetahuan sejati.
Tradisi filsafat Islam pun tidak kalah tegas dalam menekankan pentingnya kerumitan berpikir. Al-Kindi, menyatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu sejauh kemampuan manusia.Artinya, filsafat memang menuntut kesabaran intelektual untuk menggali hakikat, bukan sekadar menerima jawaban instan. Al-Farabi juga menegaskan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa dicapai melalui pengetahuan mendalam, karena menurutnya, kesempurnaan manusia adalah dengan akalnya.
Sementara itu, Al-Ghazali—yang pernah mengalami krisis intelektual—mengajarkan bahwa keraguan bisa menjadi jalan menuju keyakinan yang kokoh. Dalam al-Munqidz min al-Dhalal, ia menulis bahwa dirinya meragukan segala sesuatu hingga menemukan kepastian dalam pengetahuan yang tidak terbantahkan. Proses kerumitan itu justru yang mengantarnya pada pencerahan batin dan intelektual.
Generasi instan mungkin merasa kerumitanitu tidak relevan dengan hidup modern yang pragmatis. Namun sesungguhnya, justru dalam derasnya arus kecepatan inilah kerumitan menjadi penyelamat. Heidegger pernah menyebut filsafat sebagai panggilan untuk kembali merenung atas adayang terlupakan. Demikian pula dalam Islam, para filsuf mengingatkan bahwa tanpa perenungan, manusia akan terjebak menjadi sekadar konsumen dunia tanpa kesadaran akan tujuan hakiki.
Maka, manusia perlu berpikir kritis dan mendalam bukan hanya demi kepuasan intelektual, tetapi demi kelangsungan kemanusiaan itu sendiri. Filsafat mungkin tampak rumit, tetapi kerumitan itulah yang menjaga kita dari keserampangan. Pada akhirnya, justru dalam kerumitanlah manusia menemukan jati dirinya sebagai makhluk berpikir—homo sapiens—yang tidak puas dengan instan, melainkan haus akan makna yang sejati.
