IRAN
Ubaidillah
Bayangkan sebuah negara yang sudah 47 tahun “dikurung” oleh embargo. Di atas kertas, logikanya negara ini sudah lumpuh total. Bagaimana tidak? Coba lihat nilai tukarnya. Kalau kita di Indonesia saja sudah merasa sesak saat harus mengeluarkan Rp17.000 untuk satu dolar AS, bayangkan rakyat Iran. Mereka harus merogoh kocek hingga 1.315.000 Rial hanya untuk mendapatkan satu dolar yang sama. Angka yang bikin sesak napas.
Belum lagi bicara soal isolasi. Hubungan diplomatik diblokir, akses ekonomi diputus. Nomor HP kita saja kalau diblokir sudah merasa dilanda demam sampai ujung kepala, apalagi kalau satu negara yang diblokir dunia. Tidak boleh ke mana-mana, dan kalaupun bergerak, selalu dalam pengawasan ketat. Bahkan, rencana mengembangkan sesuatu saja harus laporan.
Maka, wajar saja kalau Donald Trump – Netanyahu begitu PD-nya. Dengan perhitungan yang dianggap sangat rigid, mereka memperkirakan cukup empat hari saja untuk menaklukkan Iran. Skenerio Venezuela pun dijalankan: melenyapkan pemimpin tertingginya. Maka Ayatullah Ali Khamenei menjadi sasaran pertama dan utama untuk dieliminasi. Dan berhasil. Logikanya sederhana: “Apa sih yang bisa dilakukan negara yang sudah dikerangkeng selama hampir setengah abad tanpa pemimpin pula?”
Tapi, realita justru menampar prediksi itu.
Ketika rudal pertama meluncur, prediksi “empat hari” itu menguap. Jangankan menyerah, setelah sebulan lebih digempur pun, Iran masih berdiri kokoh. Justru pihak lawan yang tampak kewalahan. Sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome, yang dianggap sebagai sistem pertahanan terbaik di dunia, jebol. Kota-kota besar dan fasilitas-fasilitas penting Israel pun membara bak lautan api. Bahkan muncul spekulasi: jika perang ini berlanjut hingga empat bulan atau empat tahun sekalipun, bisa-bisa mahkota “Negara Adidaya” itu yang lepas, sebelum perang selesai.
Apa rahasianya? Ternyata bukan sekadar keberanian, tapi isi kepala.
Di tengah cekikan ekonomi, Iran diam-diam membangun “pasukan otak”. Saat ini, ada sekitar 153.000 mahasiswa program doktoral (S3) yang sedang meneliti di laboratorium-laboratorium mereka. Angka ini naik signifikan dalam tiga tahun terakhir. Meskipun secara persentase populasi terlihat kecil, namun secara kualitas, mereka adalah elit intelektual yang menggerakkan negara.
Uniknya lagi, bangsa Iran itu “gila” ilmu. Bahkan di Amerika Serikat—negara yang mengembargonya—lulusan PhD asal Iran menempati posisi ke-6 terbanyak pada tahun 2024. Jadi, jangan heran kalau petinggi pemerintahan di sana rata-rata adalah lulusan S2 atau S3. Mereka mengelola negara bukan dengan otot semata, tapi dengan sains dan teknologi di bawah pengawasan ketat Departemen Ilmu dan Teknologi mereka.Bagi Iran, pendidikan adalah bentuk perlawanan. Ketika mereka tidak bisa membeli onderdil pesawat atau komponen satelit dari luar negeri, mereka tidak duduk diam meratapi nasib. Mereka masuk ke laboratorium, mengandalkan riset para ilmuwan lokalnya, dan menciptakan sendiri apa yang dunia coba sembunyikan dari mereka.
Inilah yang membuat lawan berpikir ribuan kali untuk melanjutkan perang. Iran tidak butuh senjata seharga triliunan yang komponennya harus impor. Mereka punya:
- Drone Shahed Kamikaze: Murah, efektif, dan bikin sistem pertahanan udara lawan kewalahan.
- Kapal Selam Mini Ghadir: Kecil-kecil cabai rawit yang memaksa kapal induk raksasa menjauh dari perairan mereka.
- MANPADS: Pertahanan udara mandiri yang sanggup merontokkan jet tempur secanggih F-15.
Semua teknologi ini lahir dari tangan para sarjana dan doktor yang selama puluhan tahun “dipaksa” mandiri oleh keadaan. Mereka membuktikan satu hal: Anda mungkin bisa memblokir aliran dolar ke sebuah negara, tapi Anda tidak akan pernah bisa memblokir arus ilmu pengetahuan di kepala rakyatnya. Pada akhirnya, Iran adalah bukti nyata bahwa kemandirian yang dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan adalah benteng yang paling sulit ditembus, bahkan oleh kekuatan militer terbesar di dunia sekalipun.
